Selasa, 11 Oktober 2016 / 06:10 WIB
JAKARTA. Ibarat dua sisi, permintaan kredit yang masih seret membawa
keuntungan dalam bentuk likuiditas yang melimpah bagi perbankan.
Alhasil, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) ini turut melonggarkan
rasio likuiditas perbankan.
Tak cuma perbankan konvensional,
likuiditas perbankan syariah pun melonggar. Mengutip data Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) per Juli 2016, DPK perbankan syariah meningkat 12,54%
secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 243 triliun dari Rp 216
triliun di Juli 2015.
Pada periode yang sama, penyaluran pembiayaan tumbuh tipis 7,47% dari Rp 204,8 triliun menjadi Rp 220,1 triliun pada Juli 2016.
Alhasil, rasio likuiditas perbankan syariah atawa financing to deposit ratio
(FDR) membaik ke level 90,57% per Juli 2016. Beberapa tahun belakangan,
rasio likuiditas perbankan syariah selalu berada di atas level 90%.
Direktur
Wholesale Banking PT Bank Syariah Mandiri (BSM) Kusman Yandi
menuturkan, pihaknya mencatatkan pertumbuhan DPK sebesar 9,8% menjadi Rp
65,13 triliun per Agustus 2016.
Sementara dari segi pembiayaan,
bank syariah dengan aset terbesar ini tumbuh lebih rendah atau sebesar
6,43% menjadi menjadi Rp 52,77 triliun dari Rp 49,58 triliun secara
tahunan.
“Pembiayaan segmen mikro, konsumer dan komersial tumbuh
cukup baik tapi segmen corporate banking masih negatif growth,” kata
Kusman kepada KONTAN, Senin (10/10).
Dus, rasio likuiditas BSM
membaik menjadi sebesar 80,81% per Agustus 2016. Angka ini lebih rendah
ketimbang FDR Agustus 2015 yang bertengger di level 83,35%. Kusman
mengatakan, pihaknya mempertahankan rasio likuiditas di kisaran 80%
hingga akhir tahun nanti.
Sebab, BSM bakal selektif menyalurkan
pembiayaan di tengah kondisi ekonomi yang melambat. Sedikit berbeda,
pertumbuhan DPK dan pembiayaan PT Bank Syariah Bukopin (BSB) tetap
tinggi di kuartal III lalu.
Direktur Bisnis BSB Aris Wahyudi BSB
mengatakan, pertumbuhan DPK sebesar 25,1% menjadi Rp 5,43 triliun per
September 2016. Pada periode sama, pembiayaan BSB meningkat 24% menjadi
Rp 4,77 triliun. Dus, rasio likuiditas BSB sebesar 87,84% per akhir
September 2016.
Aris menyatakan, pihaknya tetap melakukan
ekspansi pembiayaan, khususnya di segmen yang dinilai kebal krisis
ekonomi. BSB membidik pembiayaan sektor pendidikan, kesehatan, dan
pembiayaan rumah.
“Sektor perdagangan juga, tetapi selektif sesuai daya beli masyarakat,” imbuh Aris.
Contoh
lain yang mengalami perbaikan FDR yakni PT BNI Syariah. Per Agustus
2015 silam, rasio likuiditas BNI Syariah sebesar 91,37%. Rasio
likuiditas BNI Syariah menurun drastis ke level 84,14% pada Agustus
2016.
Hingga Agustus 2016, pembiayaan BNI Syariah naik 12,4%
menjadi Rp 18,94 triliun. Sedangkan DPK tumbuh 22,07% menjadi Rp 22,51
triliun pada periode sama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar